Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Hipertensi yang sering disebut dengan “The Silent Killer” merupakan keadaan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg atau tekanan darah diastolik mencapai 90 mmHg. Disebut demikian karena penderita sering mendapati dirinya tak memiliki keluhan, tetapi tiba-tiba sudah pada kondisi yang parah bahkan dapat menimbulkan komplikasi.
WHO menyebutkan jumlah penderita hipertensi akan terus bertambah seiring dengan jumlah penduduk yang semakin bertambah tahun 2025 akan datang. Hipertensi menduduki peringkat pertama untuk jenis penyakit tidak menular (Kemenkes RI, 2019). Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan angka tertinggi hipertensi berada di Kalimantan Selatan yaitu sebesar 44,1%. Menurut Data Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar (2021) jumlah estimasi penderita hipertensi sekitar 15.288 orang. Berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah masyarakat Desa Tambak Anyar Ilir dalam wilayah Kecamatan Martapura Timur, didapatkan data bahwa sebagian masyarakatnya mengalami hipertensi terutama kelompok usia dewasa dan lansia.
Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibagi menjadi dua klasifikasi, yaitu primer dan sekunder. Hipertensi primer adalah jenis darah tinggi yang tidak diketahui penyebabnya secara pasti, tetapi akan berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Sedangkan, hipertensi sekunder disebabkan karena penyakit ginjal, hipertiroidisme, penyakit bawaan jantung, kelainan bawaan pada pembuluh darah, penyalahgunaan NAPZA, penggunaan obat tertentu (dekongestan, pil KB, atau kortikosteroid), kecanduan alkohol, dll.
Hipertensi juga memiliki gejala seperti mual dan muntah, sakit kepala, mimisan, nyeri dada, gangguan penglihatan, telinga berdenging, kencing berdarah, dll. Gejala yang semakin parah harus segera diberi penanganan tenaga kesehatan. Hal tersebut dipertegas kembali, jika tekanan darah mencapai 139/90 mmHg ke atas, maka segera konsultasikan kepada dokter walau tidak memiliki keluhan apapun.
Dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat untuk mengatasi hipertensi yang semakin meluas, mahasiswa profesi Ners angkatan 24 Universitas Lambung Mangkurat (Muhammad Rayhan, S.Kep, Muhammad Nur Fajri, S.Kep, Annisa Diva Amalia, S.Kep, Cahya Mustika Putri, S.Kep, Renni Anggraini, S.Kep, Imilia, S.Kep, Lesty Intan Pertiwi, S.Kep, Muthmainnah, S.Kep, Nor Ariyani, S.Kep, Nur Fatma Rimbawati, S.Kep, Nur Syifa Laila, S.Kep, Nurul Huda, S.Kep, Putri Aprilia, S.Kep) melakukan asuhan keperawatan ke lapangan ke lapangan untuk memantau dan menekan angka penderita hipertensi dengan melakukan proker TERASI (Teh dan Rebusan Air Serai Anti Hipertensi) Tepatnya, di daerah Desa Tambak Anyar Ilir, Martapura Timur. Tercatat ada 23 peserta yang ikut dalam Program Kerja Profesi Ners tersebut.

Program ini diadakan pada Senin, 19 Agustus 2024 dengan tujuan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menyadari dan mencegah penyakit hipertensi sedari dini. Selain itu, juga bertujuan untuk mengatasi hipertensi menggunakan terapi komplementer mandiri yang dapat dilakukan di rumah. Edukasi dilakukan oleh Nor Ariyani, S.Kep. dan Muthmainnah, S.Kep. kepada 23 peserta yang terlibat. Tidak hanya itu, mahasiswa ULM ini juga menggarap program TERASI, yakni Teh Rebusan Serai Anti Hipertensi.
TERASI merupakan inovasi terobosan yang memanfaatkan teh dengan serai sebagai alternatif pendukung penurun tekanan darah yang sangat mudah dibuat. Beberapa komponen utama seperti cymbogon, citral dan flavonoid berkontribusi terhadap penurunan tekanan darah. Kandungan cymbopogon yang ada pada serai memiliki sifat diuretik dengan meningkatkan ekskresi natrium dan air dari tubuh. Senyawa citral memiliki efek vasodilatasi membantu melebarkan pembuluh darah dan kandungan flavonoid yang bersifat antioksidan dan antiinflamasi dapat mendukung kesehatan pembuluh darah.
Program kerja ini mendapat sambutan hangat dari warga setempat. Banyak warga yang mengatakan menyukai teh rebusan air serai yang dibuat. Mahasiswa yang didampingi oleh Lola Illona Elfani Kausar, S.Kep., Ns., M. Kep. dan Dr. Herawati, Ns., M.Kep. selaku dosen pembimbing tidak hanya mengedukasi dan mengajarkan pembuatan teh, tetapi juga memberi tanaman serai yang menjadi hal utama antusias warga setempat. Diharapkan hal yang sudah diajarkan dapat diaplikasian oleh masyarakat Desa Tambak Anyar Ilir sebagai pendukung untuk menekan banyaknya kasus hipertensi di desa tersebut.